DOWNLOAD AUDIO DAURAH MEI

.

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيــــــــــــــــــمِ

.

الحمـــــــــــــــــد لله رب العالمـــــــــــــــــين

 .

DOWNLOAD AUDIO

.

DAURAH MEI

.

Bersama :

Al Ustadz Abu Karimah Askari Al Bugisy -hafidzahullaah-

.

Lagi

Download Audio Arba’in An Nawawiyah

.

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيــــــــــــــــــمِ

.

الحمد لله رب العالمين

.

Download Audio

.

Arba’in An-Nawawiyah

.

Karya :

Al Imam An Nawawi -rahimahullaah-

Bersama :

Al Ustadz Abu Abdillah Sofyan Chalid Ruray

-hafidzahullaah-

Sekelumit tentang Imam :

Nasab Imam an-Nawawi

Beliau adalah al-Imam al-Hafizh  Syaikhul Islam  Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Mury bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam an-Nawawi ad-Dimasyqi asy-Syafi’i

Kata ‘an-Nawawi’ dinisbatkan kepada sebuah perkampungan yang bernama‘Nawa’, salah satu perkampungan di Hauran, Syiria, tempat kelahiran beliau. Beliau salah seorang syaikh di dalam madzhab Syafi’i dan ahli fiqih terkenal pada zamannya.

Imam Nawawi pindah ke Damaskus pada tahun 649 H dan tinggal di distrik Rawahibiyah. Di tempat ini beliau belajar dan sanggup menghafal kitab at-Tanbih hanya dalam waktu empat setengah bulan. Kemudian beliau menghafal kitab al-Muhadzdzabb pada bulan-bulan yang tersisa dari tahun tersebut, dibawah bimbingan Syaikh Kamal Ibnu Ahmad.

Semasa hidupnya beliau selalu menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, menulis kitab, menyebarkan ilmu, ibadah, wirid, puasa, dzikir, sabar atas terpaan badai kehidupan. Pakaian beliau adalah kain kasar, sementara serban beliau berwarna hitam dan berukuran kecil.

Produktif dalam menulis

Di antara karya-karya tulisnya tersebut adalah:

Syarh Shahih Muslim,  Al Majmu Syarh Al  Muhadzdzab, Riyadhush  Shalihin,  Al Adzkar,  Tahdzib Al Asma wa Al Lughat Al Arba’in An Nawawiyyah dll.

(Sumber Wikipedia, dengan beberapa perubahan)

Tafadhal unduh disini :

Lagi

Kaidah Penerapan Sunnah : Pastikan Ke-Shahih-annya

Kaidah Penerapan Sunnah :

Pastikan Ke-Shahih-annya


Penulis: Al Ustadz Muhammad Umar as Sewwed


Manhaj, 18 Agustus 2004, 03:44:43

Dalam menerapkan sunnah-sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam kita harus berhati-hati dan teliti. Dalam masalah ini kita harus memperhatikan beberapa kaidah yang telah para ulama tetapkan agar penerapan sunnah itu tidak justru berbalik memancing orang untuk mencemoohkannya, padahal hal itu diakibatkan oleh kesalahan kita dalam penerapannya.Kesalahan tersebut dapat berasal dari dua sisi. Pertama, hadits yang dijadikan sandaran adalah hadits yang dlaif (lemah) atau bahkan palsu. Atau pemahaman kita yang keliru terhadap hadits yang kita jadikan sebagai sandaran walaupun shahih. 

Oleh karena itu kaidah pertama yang harus kita perhatikan dalam penerapan sunnah adalah memastikan kesahihan hadits dan memastikan kebenaran istinbath (pengambilan, red) hukumnya. Yang pertama diistilahkan dengan riwayah, dan yang kedua diistilahkan dengan dirayah.

Lagi

10 TERAKHIR RAMADHAN DAN LAILATUL QADAR

10 HARI TERAKHIR RAMADHAN

DAN

LAILATUL QADAR

(Mengenal dan Meraih Keutamaannya)

http://facebook.com/

Oleh:

Ustadz  Abu Ahmad Kadiri

Ustadz  Abu ‘Amr Ahmad

Segala puji hanya bagi Allah, yang telah menyampaikan kita dipenghujung 10 hari kedua bulan Ramadhan. Sebentar lagi kita akan memasuki 10 ketiga atau terakhir bulan Ramadhan. Hari-hari yang memiliki kelebihan dibanding lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada 10 terakhir Ramadhan ini meningkat amaliah ibadah beliau yang tidak beliau lakukan pada hari-hari lainnya.

Ummul Mu`minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada 10 terakhir Ramadhan :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر – أي العشر الأخير من رمضان – شد مئزره، وأحيا ليله، وأيقظ أهله ( متفق عليه

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki 10 terakhir Ramadhan, beliau mengencangkan tali sarungnya (yakni meningkat amaliah ibadah beliau), menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan istri-istrinya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Lagi

HAL-HAL SEPUTAR I’TIKAF


SEPUTAR I’TIKAF

Mengenal dan Mengamalkannya sesuai Sunnah Rasulullah 

صلى الله عليه وسلم

Masjid Fatahillah, Depok

Oleh:

Ustadz  Abu Ahmad Kadiri

Ustadz  Abu ‘Amr Ahmad

Merupakan sebuah sunnah yang telah banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin ketika bulan Ramadhan adalah I’tikaf. Setiap kaum muslimin tentu berharap agar Ramadhan yang dia laksanakan bernilai di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, terutama ketika 10 terakhir Ramadhan yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadr malam yang di dalamnya dilipatgandakan amalan seorang hamba lebih baik daripada 1000 bulan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa hidupnya telah memberikan contoh kepada umatnya untuk meningkatkan amaliah ibadah ketika memasuki 10 Terakhir Ramadhan tersebut, dan berusaha untuk mencari malam Lailatul Qadr dengan mengerahkan upaya maksimal, sebagaimana hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Dahulu Rasulullah ketika memasuki 10 Terakhir dari bulan Ramadhan, beliau mengencangkan tali sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya” (HR Al Bukhari no.1884)

Di antara yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada 10 Terakhir Ramadhan adalah I’tikaf di masjid.

Lagi

Menolak Hadits berarti Menolak al-Qur’an

Menolak Hadits berarti Menolak al-Qur’an


Oleh : Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed

Munculnya aliran sesat ingkarus sunnah adalah sebuah fenomena yang sangat mengherankan. Seorang yang berakal sehat pasti akan memahami bahwa al-Qur’an dan sunah tidak mungkin dapat dipisahkan. Betapa tidak, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan berkali-kali dalam al-Qur’an untuk mengikuti dan mentaati Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Maka orang yang mentaati al-Qur’an pasti akan mentaati Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
Kita lihat beberapa ayat dalam al-Qur’an yang menyatakan hal tersebut, di antaranya:

1. Diutusnya Rasul untuk ditaati


وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا (النساء: 64

Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan se-izin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (an-Nisaa’: 64)

Lagi

HADITS-HADITS TENTANG KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR`AN

HADITS-HADITS TENTANG KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR`AN

www.missionislam.com

Oleh: admin assalafy.org

Bulan Ramadhan merupakan bulan Al-Qur`an. Pada bulan inilah Al-Qur`an diturunkan oleh Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana dalam firman-Nya :

)شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ (البقرة: ١٨٥

“bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil).” [Al-Baqarah : 185]

Di antara amal ibadah yang sangat ditekankan untuk diperbanyak pada bulan Ramadhan adalah membaca (tilawah) Al-Qur`anul Karim. Banyak sekali hadits-hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan tentang keutamaan membaca Al-Qur`an. Di antaranya :

Lagi